TUGAS CONTOH KASUS DALAM KELUARGA
“ Ketidak Terbukaan Antara Anggota Keluarga “

Dibuat
oleh :
Nama : Aena Alfina Hidayati
Kelas
: 4 A
NPM : 1112500141
Progdi
: Bimbingan dan Konseling
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UPS TEGAL
PEMBAHASAN
- Kasus
Siska
adalah seorang siswi suatu SMA di kota
besar, kelas III, semester kedua, program studi IPS. Dia tinggal bersama orang tuanya, yang
mendukung ita-citanya menjadi seorang guru akutansi. Siska berharap dapat diterima di Universitas
Negeri di kotanya sendiri, dan telah berusaha sejak kelas 1 supaya nilai
rata-rata dalam rapor setiap semester
minimal 7. Dalam usaha ini dia berhasil.
Selain
itu, sejak awal kelas II dia juga berhasil dalam mengikat hati seorang siswa
yang duduk di kelas yang sama. Mereka sudah biasa pergi rekreasi bersama,
meskipun pihak putri terpaksa main backstreet karena orang tuanya belum
mengizinkan untuk berpacaran. Pada awal semester kedua siswi mengatakan bahwa
orang tuanya telah mengetahui petualangannya dan memarahi dia, bahkan mereka
mengancam ini dan itu. Siswi itu merasa terpaksa memutuskan hubungan karena dia
tidak berani melawan orang tua. Siska jatuh dalam lembah depresi dan berfikir :
“Apa gunanya meneruskan hidup di dunia ini? Saya tidak rela dicintai oleh lelaki lain ataupun mencintai
gadis lain. Hanya yang satu ini menjadi idaman saya! Sumber semangat belajarku dan
pendukung cita-citaku sudah lenyap!”.
Siska bolos sekolah satu minggu. Ketika masuk sekolah
kembali, dia dipanggil oleh konselor di sekolahnya.
A. Ketidak
Terbukaan Antara Anggota Keluarga
1.
Pengertian
yang dimaksud kasus ini adalah suatu masalah dimana anak tidak terbuka kepada
oaring tuanya tentang hubungan yang ia jalanin dengan lawan jenisnya. Dan orang tuanya tidak mengijinkan ia
menjalin sebuah hubungan. Pada akhirnya mengakibatkan kurang semangatnya anak
untuk menjalani kehidupan sehari-hari karena merasa dikecewakan.
B.
Gejala, dan
Ciri-Ciri
·
Gejala
Gejala dalam
kasus ini dengan kurangya rasa semangat dalam diri anak dan mengakibatkan
depresi pada anak. Anak merasa semangat
dalam belajar dan pendukung cita-citanya sudah lenyap.
·
Ciri-ciri
1.
Anak
menjadi bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan.
2.
Anak
,menajdi pendiam dan kaku.
3.
Suka
menyendiri di kamar.
4.
Bersikap
posesif.
5.
Anak
menjadi malas untuk melakukan sebuah kegiatan.
C.
Sumber, sebab dan Latar Belakang
Kasus
Ø Sumber Kasus
Sumber yang terpenting yaitu kurang
terbukanya anak dengan orang tua. Di samping itu anak harus mematuhi apa yang
di katakana orang tuanya.
Ø Sebab Kasus
Orang tua terlalu otoriter terhadap
anak, di mana anak tidak pernah dapat mengajuka pendapat, usul dan
kemauannya. Orang tua telah menetapkan
norma yang harus dipatuhi oleh putrinya.
Ø Latar Belakang Kasus
Keterbukaan antara anak dengan orang
tua sangatlah penting untuk menjalain hubungan yang harmonis antara anak dengan
orang tua. Apabila orang tua mengajarkan arti keterbukaan tehadap anaknya, anak
tersebut akan selalu terbuka untuk mencurahkan segala perasaan, masalah,
pendapat kepada orang tua. Jika ketidak
terbukaan anak dengan orang tua akan mengakibatkan miss communication yang akan
berdampak negatif terhadap anak. Anak juga akan memendam masalah yang dialami
sehingga akan mengakibatkan perilaku negatif pada anak.
D. Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Kasus
1.
Faktor
Lingkungan
Norma lingkungan yang dianggap anak
yang terlalu otoriter.
2.
Faktor
Kebudayaan
Adanya kebudayaan baru yang diikuti
oleh anak yang dianggap oelh orang tua kebudayaan itu tidak sesuai dengan norma
dalam keluarga.
3.
Faktor
Dalam Diri Anak
Anak
kurang bisa terbuka terhadap orang tua.
4.
Faktor
Orang Tua
Orang tua berprinsip pada aturan
keluarga yang harus dijalankan oleh anaknya
E. Dampak
Negatif Yang Timbul
1.
Adanya
konflik antara anak dengan orang tua.
2.
Hubungan
anak dengan orang tua menajdi renggang.
3.
Anak
menajdi malas untuk melakukan sesuatu.
4.
Tidak
bersemangatnya anak untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
5.
Anak
merasa tertekan dan tidak betah di rumah.
6.
Anak
menjadi pendiam.
F. Langkah-Langkah
Untuk Mengatasi Kasus.
Langkah yang harus dilakukan
konselor untuk menyelesaikan kasus di atas dengan menggunakan Rational-Emotion
Therapy :
1. Membangun
hubungan pribadi dengan prabawa. Di sini konselor menjelaskan alasan prabawa
dipanggil, yaitu selama satu minggu tidak masuk sekolah tanpa ada kabar, dan
bertanya apakah ada sesuatu yang ingin dibicarakannya berkaitan dengan hal itu.
Mula-mula Prabawa kelihatan ragu-ragu, tetapi akhirnya mengatakan bahwa memang
ada sesuatu yang ingin dibicarakan.
2.
Mendengarkan dengan penuh perhatian
uingkapan pikiran dan perasaan Prabawa. Dia mengutarakan bahwa semangat belajar
telah hilang,setelah mengalami pukulan amat berat, di siswi sekelas yang selama
satu tahun sering mau diajak pergi berdua, tetapi tiba-tiba mengundurkan diri
setelah dimarahi oleh orang tuanya. Pada hal, katanya, tidak ada gadis lain yang pantas dicintai. Prabawa beranggapan bahwa masa
depannya menjadi sangat suram dan tidak ada sumber inspirasi lagi yang
mendukung cita-citanya menjadi guru akutansi disekolah menengah (pikiran
irasional).
Mengadakan analisis
kasus, yaitu mencari gambaran yang lengkap mengenai kaitan antara A,B,C (
Activating Event, Belief, Consquences). Konselor akan menaruh perhatian khusus
pada pikiran-pikiran irasional yang di duga mendasari rasa kehilangan semangat,
karena dia akan mengusahakan supaya Prabawa berfikir rasional dalam menghadapi
persoalannya.
(a)
Kejadian yang dialami ialah terputusnya hubungan percintaan dengan gadis yang
dikaguminya, yang memutuskan hubungan ialah pihak putri, dengan memberikan
alasan dilarang oleh orang tuanya.
(b)
Kejadian ini ditanggapi dengan banyak pikiran yang irasional atau tidak masuk
akal. Prabawa berfikir : “ Ini musibah besar, karena cimtaku yang pertama dan
abadi dihancurkan begitu saja.” “Tidak
ada gadis lain yang lain yang akan kucinta. Gadis lain juga tidak akan
mencintai diriku setulus teman siswi itu.” “ Dunia telah bertindak
kejam terhadap diriku, apa gunanya menyambung benang hidupku ini?.” “ Siapa
lagi yang akan memberikan inspirasi kepadaku untuk mengejar cita-citaku kalau
bukan dia?” (Irational Belief)
(c)
Sebagai akibat dari cara berfikir yang demikian, Prabawa mengalami gejolak
emosional dan goncangan dalam alam perasaannya, seperti merasa kehilangan
semangat hidup dan gairah untuk belajar, merasa putus asa dan merasa seperti
orang yang lukanya menganga lebar dan mengeluarkan darah terus-menerus
(Consquences dalam alam perasaan). Akibatnya lebih lanjut ialah Prabawa
memutuskan untuk tidak masuk sekolah; ini tindakan penyesuain diri yang salah dan
malah membahayakan sukses dalam belajarnya (Consquences dalam perilaku nyata).
Namun, karena teguran orang tuanya dia terpaksa kembali ke sekolah setelah
membolos satu minggu.
4. Membantu Prabawa untuk
menemukan jalan keluar dari persoalan ini. Konselor dapat mulai dengan
menjelaskan kepadanya hasil analisis di atas, sehingga Prabawa sedikit banyak
mengerti apa alasannya sehingga keadaannya sekarang begini. Kemudiaan konselor
memulai menantang seluruh pikiran yang tidak masuk akal tadi, misalnya dengan
melontarkan pertanyaan : “ Apa alasanmu berpendapat telah ditimpa musibah
beasr?.’’ ; “Apakah pengalaman memang sudah pasti bahwa cinta pertama ini
merupakan cinta abadi?.” ; “Apakah inspirasi dan semangat belajar hanya dapat
diberikan oleh gadis itu?” ; “Apakah orang tua siswi yang masih di bawah umur
itu tidak berhak ikut bicara?” ; “Apakah kamu mempunyai hak menuntut supaya
dunia ini memenuhi keinginan dengan serba cepat?”, dan lain sebagainya.
Disamping itu, konselor memberikan
pandangan-pandangan baru kepada Prabawa, misalnya : “Pada umur sekarang belum
tentulah bahwa gadis itu adalah jodohmu. Mungkin saja hubungan ini akan berubah
bila Prabawa dan siswi itu sudah menginjak dewasa”: ”Anggaplah pengalaman
berpacaran ini sebagai pelajaran yang berguna, yaitu Prabawa sudah mengalami
keindahan cinta, tetapi sekaligus lebih menyadari harus melihat situasi dan
kondisi siswi yang masih bersekolah seperti Prabawa sendiri”; “Orang tuanya
mungkin menginginkan, supaya anak mereka menyelesaikan studinya lebih dahulu
sebelum mengikat diri. Selain itu, tindakan backsRational Emotive Therapyet
tidak tepat dilakukan oleh gadis remaja, karena ini menghancurkan hubungan
terbuka antara orang tua dan anak”; “Tidak lebih baikkah Prabawa menyelesaikn
SMA lebih dahulu dan nantinya melihat lagi kemungkinan untuk menyambung kembali
hubungan dengan gadis itu, kalau dia memang cocok untuk Prabawa?” ; “Lebih
baiklah bagi pemuda untuk mendapatkan kepastian tentang suatu pekerjaan,
shingga dia dapat menghidupi keluarga. Orang tua pihak putri ingin supaya
kehidupan anaknya, yang diserahkan kepada seorang pria, betul-betul terjamin” ;
“Kegagalan dalam cinta di masa remaja bukan musibah yang menghancurkan masa
depan”; “Merasa kecewa sekarang ini adalah perasaan yang wajar pada umurmu sekarang”;
dan lain-lain pertimbangan.
Efek dari diskusi ini ialah, bahwa
Prabawa mulai berubah pikiran dan memandang pengalaman ini dengan cara yang
lebih masuk akal, misalnya, “Saya akan menerima kenyataan ini. Memang saya
tidak mengharapkannya, tetapi apa boleh buat? Lebih baik saya memusatkan
perhatian pada studi dahulu, supaya cita-cita saya dapat diraih. Pengalaman
cinta pertama ini saya simpan sebagai kenangan yang manis, yang nantinya dapat
disambung lagi”, dan lain sebagainya (r-afektif). Akhirnya Prabawa memutuskan
untuk tidak lagi mengajak teman siswi itu pergi berdua dan mengejar pelajaran
yang ketinggalan (perilaku, Rasional)
5.
Mengakhiri
hubungan pribadi dengan Prabawa.
bagus bu guruuu.. :D
BalasHapusterimakasih rin ;)
Hapuswah bagus sekali, sangat bermanfaat untuk tugas mata kuliah saya (y) thx
BalasHapussama-sama semoga membantu yah :)
Hapusmaterine bagus fin :)
BalasHapusmakasih nar :D
Hapusmakalah y sngat bermanfaat bagi saya :)
BalasHapussip dah ;)
Hapusbagus blognya mba :D
BalasHapusmakasih :)
Hapusaku copy paste yah materinya :D
BalasHapushiii mikir sendiri yah -_-
Hapuskomen balik... siskana.blogspot.com
BalasHapusudah sis :D
Hapuswow.... amazing bingit...
BalasHapuslebih imazing lagi kalo komen balik..hahah
BalasHapus