Kamis, 08 Mei 2014

Pengertian Psikolog adalah mereka yang
mempelajari aspek sosial dari individu
tersebut, seperti keluarga, norma masyarakat
dan agama. Dalam menentukan diagnosa dan
penyebab, mereka akan melakukan
wawancara dengan klien dan keluarganya.
Psikolog menggunakan pendekatan konseling
intervensi, terapi tertentu hingga alat tes.
Untuk membantu diagnosa, psikolog
terkadang menggunakan bantuan tes-tes
psikologi. Fungsinya untuk membantu
psikolog dalam menentukan diagnosa. Untuk
menyembuhkan atau menghilangkan
permasalahan kejiwaan, psikolog
menggunakan terapi konseling dan intervensi.
PSIKIATER
PSIKIATER
Jenis Tes Dalam Psikolog :
1. Tes IQ
2. Minat
3. Bakat
4. Karir
5. Tes kepribadian
Jenis Tes Dalam Psikolog : 
untuk lebih lengkapnya klik DI SINI

Share Tugas Model-model konseling.doc - 109 KB

Share Tugas Model-model konseling.doc - 109 KB

Rabu, 30 April 2014

CONTOH KASUS DALAM KELUARGA


TUGAS CONTOH KASUS DALAM KELUARGA
“ Ketidak Terbukaan Antara Anggota Keluarga “


Dibuat oleh :
Nama          : Aena Alfina Hidayati
Kelas           : 4 A
NPM          : 1112500141
Progdi         : Bimbingan dan Konseling


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UPS TEGAL








PEMBAHASAN

  •  Kasus
Siska adalah seorang  siswi suatu SMA di kota besar, kelas III, semester kedua, program studi IPS.  Dia tinggal bersama orang tuanya, yang mendukung ita-citanya menjadi seorang guru akutansi.  Siska berharap dapat diterima di Universitas Negeri di kotanya sendiri, dan telah berusaha sejak kelas 1 supaya nilai rata-rata dalam  rapor setiap semester minimal 7. Dalam usaha ini dia berhasil.
Selain itu, sejak awal kelas II dia juga berhasil dalam mengikat hati seorang siswa yang duduk di kelas yang sama. Mereka sudah biasa pergi rekreasi bersama, meskipun pihak putri terpaksa main backstreet karena orang tuanya belum mengizinkan untuk berpacaran. Pada awal semester kedua siswi mengatakan bahwa orang tuanya telah mengetahui petualangannya dan memarahi dia, bahkan mereka mengancam ini dan itu. Siswi itu merasa terpaksa memutuskan hubungan karena dia tidak berani melawan orang tua. Siska jatuh dalam lembah depresi dan berfikir : “Apa gunanya meneruskan hidup di dunia ini? Saya tidak rela dicintai oleh lelaki lain ataupun mencintai gadis lain. Hanya yang satu ini menjadi idaman saya! Sumber semangat belajarku dan pendukung cita-citaku sudah lenyap!”.
Siska bolos sekolah satu minggu. Ketika masuk sekolah kembali, dia dipanggil oleh konselor di sekolahnya.

A.   Ketidak Terbukaan Antara Anggota Keluarga
1.      Pengertian yang dimaksud kasus ini adalah suatu masalah dimana anak tidak terbuka kepada oaring tuanya tentang hubungan yang ia jalanin dengan lawan jenisnya.  Dan orang tuanya tidak mengijinkan ia menjalin sebuah hubungan. Pada akhirnya mengakibatkan kurang semangatnya anak untuk menjalani kehidupan sehari-hari karena merasa dikecewakan.

B.   Gejala, dan Ciri-Ciri
·         Gejala
Gejala dalam kasus ini dengan kurangya rasa semangat dalam diri anak dan mengakibatkan depresi pada anak.  Anak merasa semangat dalam belajar dan pendukung cita-citanya sudah lenyap.
·         Ciri-ciri
1.      Anak menjadi bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan.
2.      Anak ,menajdi pendiam dan kaku.
3.      Suka menyendiri di kamar.
4.      Bersikap posesif.
5.      Anak menjadi malas untuk melakukan sebuah kegiatan.

C.   Sumber, sebab dan Latar Belakang Kasus
Ø  Sumber Kasus
Sumber yang terpenting yaitu kurang terbukanya anak dengan orang tua. Di samping itu anak harus mematuhi apa yang di katakana orang tuanya.


Ø  Sebab Kasus
Orang tua terlalu otoriter terhadap anak, di mana anak tidak pernah dapat mengajuka pendapat, usul dan kemauannya.  Orang tua telah menetapkan norma yang harus dipatuhi oleh putrinya.

Ø  Latar Belakang Kasus
Keterbukaan antara anak dengan orang tua sangatlah penting untuk menjalain hubungan yang harmonis antara anak dengan orang tua. Apabila orang tua mengajarkan arti keterbukaan tehadap anaknya, anak tersebut akan selalu terbuka untuk mencurahkan segala perasaan, masalah, pendapat kepada orang tua.  Jika ketidak terbukaan anak dengan orang tua akan mengakibatkan miss communication yang akan berdampak negatif terhadap anak. Anak juga akan memendam masalah yang dialami sehingga akan mengakibatkan perilaku negatif pada anak.

D.   Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kasus
1.      Faktor Lingkungan
Norma lingkungan yang dianggap anak yang terlalu otoriter.
2.      Faktor Kebudayaan
Adanya kebudayaan baru yang diikuti oleh anak yang dianggap oelh orang tua kebudayaan itu tidak sesuai dengan norma dalam keluarga.
3.      Faktor Dalam Diri Anak
Anak  kurang bisa terbuka terhadap orang tua.
4.      Faktor Orang Tua
Orang tua berprinsip pada aturan keluarga yang harus dijalankan oleh anaknya

E.   Dampak Negatif Yang Timbul
1.      Adanya konflik antara anak dengan orang tua.
2.      Hubungan anak dengan orang tua menajdi renggang.
3.      Anak menajdi malas untuk melakukan sesuatu.
4.      Tidak bersemangatnya anak untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
5.      Anak merasa tertekan dan tidak betah di rumah.
6.      Anak menjadi pendiam.

F.    Langkah-Langkah Untuk Mengatasi Kasus.
Langkah yang harus dilakukan konselor untuk menyelesaikan kasus di atas dengan menggunakan Rational-Emotion Therapy :
1.      Membangun hubungan pribadi dengan prabawa. Di sini konselor menjelaskan alasan prabawa dipanggil, yaitu selama satu minggu tidak masuk sekolah tanpa ada kabar, dan bertanya apakah ada sesuatu yang ingin dibicarakannya berkaitan dengan hal itu. Mula-mula Prabawa kelihatan ragu-ragu, tetapi akhirnya mengatakan bahwa memang ada sesuatu yang ingin dibicarakan.
2.      Mendengarkan dengan penuh perhatian uingkapan pikiran dan perasaan Prabawa. Dia mengutarakan bahwa semangat belajar telah hilang,setelah mengalami pukulan amat berat, di siswi sekelas yang selama satu tahun sering mau diajak pergi berdua, tetapi tiba-tiba mengundurkan diri setelah dimarahi oleh orang tuanya. Pada hal, katanya, tidak ada gadis lain yang pantas  dicintai. Prabawa beranggapan bahwa masa depannya menjadi sangat suram dan tidak ada sumber inspirasi lagi yang mendukung cita-citanya menjadi guru akutansi disekolah menengah (pikiran irasional).
 Mengadakan analisis kasus, yaitu mencari gambaran yang lengkap mengenai kaitan antara A,B,C ( Activating Event, Belief, Consquences). Konselor akan menaruh perhatian khusus pada pikiran-pikiran irasional yang di duga mendasari rasa kehilangan semangat, karena dia akan mengusahakan supaya Prabawa berfikir rasional dalam menghadapi persoalannya.
(a)    Kejadian yang dialami ialah terputusnya hubungan percintaan dengan gadis yang dikaguminya, yang memutuskan hubungan ialah pihak putri, dengan memberikan alasan dilarang oleh orang tuanya.
(b)   Kejadian ini ditanggapi dengan banyak pikiran yang irasional atau tidak masuk akal. Prabawa berfikir : “ Ini musibah besar, karena cimtaku yang pertama dan abadi dihancurkan begitu saja.” “Tidak ada gadis lain yang lain yang akan kucinta. Gadis lain juga tidak akan mencintai diriku setulus teman siswi itu.” “ Dunia telah bertindak kejam terhadap diriku, apa gunanya menyambung benang hidupku ini?.” “ Siapa lagi yang akan memberikan inspirasi kepadaku untuk mengejar cita-citaku kalau bukan dia?” (Irational Belief)
(c)    Sebagai akibat dari cara berfikir yang demikian, Prabawa mengalami gejolak emosional dan goncangan dalam alam perasaannya, seperti merasa kehilangan semangat hidup dan gairah untuk belajar, merasa putus asa dan merasa seperti orang yang lukanya menganga lebar dan mengeluarkan darah terus-menerus (Consquences dalam alam perasaan). Akibatnya lebih lanjut ialah Prabawa memutuskan untuk tidak masuk sekolah; ini tindakan penyesuain diri yang salah dan malah membahayakan sukses dalam belajarnya (Consquences dalam perilaku nyata). Namun, karena teguran orang tuanya dia terpaksa kembali ke sekolah setelah membolos satu minggu.
  4.    Membantu Prabawa untuk menemukan jalan keluar dari persoalan ini. Konselor dapat mulai dengan menjelaskan kepadanya hasil analisis di atas, sehingga Prabawa sedikit banyak mengerti apa alasannya sehingga keadaannya sekarang begini. Kemudiaan konselor memulai menantang seluruh pikiran yang tidak masuk akal tadi, misalnya dengan melontarkan pertanyaan : “ Apa alasanmu berpendapat telah ditimpa musibah beasr?.’’ ; “Apakah pengalaman memang sudah pasti bahwa cinta pertama ini merupakan cinta abadi?.” ; “Apakah inspirasi dan semangat belajar hanya dapat diberikan oleh gadis itu?” ; “Apakah orang tua siswi yang masih di bawah umur itu tidak berhak ikut bicara?” ; “Apakah kamu mempunyai hak menuntut supaya dunia ini memenuhi keinginan dengan serba cepat?”, dan lain sebagainya.
Disamping itu, konselor memberikan pandangan-pandangan baru kepada Prabawa, misalnya : “Pada umur sekarang belum tentulah bahwa gadis itu adalah jodohmu. Mungkin saja hubungan ini akan berubah bila Prabawa dan siswi itu sudah menginjak dewasa”: ”Anggaplah pengalaman berpacaran ini sebagai pelajaran yang berguna, yaitu Prabawa sudah mengalami keindahan cinta, tetapi sekaligus lebih menyadari harus melihat situasi dan kondisi siswi yang masih bersekolah seperti Prabawa sendiri”; “Orang tuanya mungkin menginginkan, supaya anak mereka menyelesaikan studinya lebih dahulu sebelum mengikat diri. Selain itu, tindakan backsRational Emotive Therapyet tidak tepat dilakukan oleh gadis remaja, karena ini menghancurkan hubungan terbuka antara orang tua dan anak”; “Tidak lebih baikkah Prabawa menyelesaikn SMA lebih dahulu dan nantinya melihat lagi kemungkinan untuk menyambung kembali hubungan dengan gadis itu, kalau dia memang cocok untuk Prabawa?” ; “Lebih baiklah bagi pemuda untuk mendapatkan kepastian tentang suatu pekerjaan, shingga dia dapat menghidupi keluarga. Orang tua pihak putri ingin supaya kehidupan anaknya, yang diserahkan kepada seorang pria, betul-betul terjamin” ; “Kegagalan dalam cinta di masa remaja bukan musibah yang menghancurkan masa depan”; “Merasa kecewa sekarang ini adalah perasaan yang wajar pada umurmu sekarang”; dan lain-lain pertimbangan.
Efek dari diskusi ini ialah, bahwa Prabawa mulai berubah pikiran dan memandang pengalaman ini dengan cara yang lebih masuk akal, misalnya, “Saya akan menerima kenyataan ini. Memang saya tidak mengharapkannya, tetapi apa boleh buat? Lebih baik saya memusatkan perhatian pada studi dahulu, supaya cita-cita saya dapat diraih. Pengalaman cinta pertama ini saya simpan sebagai kenangan yang manis, yang nantinya dapat disambung lagi”, dan lain sebagainya (r-afektif). Akhirnya Prabawa memutuskan untuk tidak lagi mengajak teman siswi itu pergi berdua dan mengejar pelajaran yang ketinggalan (perilaku, Rasional)
5.       Mengakhiri hubungan pribadi dengan Prabawa.

Jumat, 14 Maret 2014

Happy Anniversary 1th


Cintailah aku dengan segala kekuranganku bukan kelebihanku
Cintailah aku dengan hatimu bukan logikamu
Cintailah aku bukan dari nafsumu tetapi ikhlasmu
Cintailah aku dengan ridho orang tuamu karena itu ridho Allah SWT
Cintailah aku bukan untuk 1 menit, 1 hari, 1 tahun tetapi untuk selamanya